Pameran Proyek Studi Mahasiswa DKV UNNES di Tekodeko Semarang

Di Tekodeko, salah satu kafe di Kota Lama Semarang, telah dilaksanakan pameran proyek studi oleh tiga mahasiswa DKV UNNES sekaligus. Mereka adalah Angga Yafi H., Mohammad Tantowi, dan Aries Cahyo S. Pameran berlangsung selama tiga hari, 7-9 Juli 2017.

IMG_20170708_135328

Angga Yafi H. memamerkan karya berjudul “PERANCANGAN IKLAN LAYANAN MASYARAKAT SEBAGAI MEDIA KAMPANYE KEPEDULIAN TERHADAP ANAK JALANAN”. Iklan yang ditampilkan berupa poster, iklan interaktif di majalah, dan instalasi. Untuk menggarap proyek ini Angga melakukan survey terhadap kondisi anak jalanan di kota Semarang. Hasilnya menunjukkan bahwa terjadi peningkatan anak jalanan yang cukup pesat dari tahun 2016-2017. Hal tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor, di antaranya faktor keluarga maupun lingkungan sekitar.

Poster di bawah ini menunjukkan ketidakpedulian masyarakat pada anak jalanan. Seringkali anak jalanan dipandang negatif sehingga masyarakat cenderung tidak peduli pada keadaan mereka.

IMG_20170708_134705

Ada dua karya untuk iklan majalah yang sangat menarik karena merupakan media interaktif yang mengajak pembaca untuk bertindak. “BERBAGILAH DENGAN MEREKA” menunjukkan dua makna yang berbeda. Iklan ini terdiri dari dua halaman dan di antaranya terdapat halaman yang terbuat dari plastik yang tertempel kotak bertuliskan Rumpin Bangjo. Apabila pembaca membalik halaman plastik tersebut, kotak yang tadinya dibawa oleh anak jalanan akan berpindah ke tangan laki-laki di halaman sebelah kiri.

“MEREKA PUN PUNYA MIMPI” menunjukkan kondisi anak jalanan yang biasanya sering kita lihat saat mereka berada di jalanan. Namun, apabila pembaca membuka kertas penutup di halaman tersebut, tampaklah gambar yang menunjukkan mimpi mereka, ingin jadi seperti apa mereka sebenarnya. Mimpi-mimpi itu tidak dapat tercapai jika tidak ada yang peduli pada mereka.

IMG_20170708_134653

Kekerasan juga sering terjadi pada anak jalanan. “ANDA BISA MENCEGAHNYA” merupakan contoh instalasi sebuah iklan yang bertujuan melihat reaksi masyarakat ketika melihat kekerasan terhadap anak jalanan yang divisualkan dengan gambar bayangan.

IMG_20170708_134452

Anak jalanan sesungguhnya tidak berbeda dengan anak-anak lain yang membutuhkan ruang untuk bermain dan belajar, serta kesempatan untuk mewujudkan mimpi-mimpi mereka.

IMG_20170708_134418

Pesan yang diangkat oleh Angga pada proyek studinya bagus sekali, desain yang ditampilkan juga mengena dan menarik. Namun, dalam presentasi karya juga sangat perlu memperhatikan ketepatan tata bahasa dan ejaan yang digunakan. Pengunjung pameran tentu membaca presentasi tertulis yang menerangkan tentang karya-karya tersebut. Saya menemukan banyak kesalahan ketik pada penjelasan karya yang beberapa di antaranya merupakan hal mendasar dalam teknik menulis.

Di sudut kedua ruang pameran, Mohammad Tantowi memamerkan karya yang berjudul “RECORDLABORATION”. Karya ini merupakan perancangan media promosi CV Strato Studio Semarang. Media promosi yang ditampilkan berupa poster, iklan majalah, desain CD, pamflet, dan stiker. Poster-poster yang tertempel menampilkan band-band yang pernah memercayakan proses rekaman musik mereka di Strato Studio, semuanya band dari Kudus yang merupakan kota asal Mohammad Tantowi. Desain poster tersebut menggambarkan genre musik dari setiap band.

IMG_20170708_135318.jpg

Aries Cahyo S. menampilkan karya berjudul “PERANCANGAN MEDIA PROMOSI TERCETAK GREENAPPLE COFFEE SHOP”. Greenapple coffee shop adalah coffee shop atau kedai kopi sederhana yang berada di Jl. Banaran Raya, Gunung Pati, Jawa Tengah yang dibuka November 2016.

IMG_20170708_135253

Saya agak bingung saat membaca konsep karya. Pada judul nama kedai kopi ditulis tanpa spasi, tapi pada penjelasan karya namanya ditulis terpisah. Jadi yang betul “Greenapple” atau “Green Apple”? Dalam penulisan sangat perlu memperhatikan konsistensi agar pembaca tidak bingung.

Desain poster, leaflet, dan daftar menu sangat jelas memberi informasi tentang Greenapple dan menu yang disediakan dengan harganya masing-masing. Hanya saja pemilihan font pada menu menurut saya kurang menarik. Desain daftar menu sebenarnya juga bisa dibuat lebih manis, tidak hanya dengan background hitam polos walaupun mungkin Aries ingin menunjukkan kesan simple.

​TELE(R)VISION – Pameran Tunggal Proyek Studi Briyan Farid

Pada pameran tunggal proyek studi bertajuk TELE(R)VISION, Briyan Farid, mahasiswa Seni Rupa UNNES, mengangkat persepsi tentang tayangan televisi sebagai inspirasi berkarya seni lukis. Perupa asal Kudus ini menampilkan 8 karya seni lukis di pameran yang berlangsung selama tiga hari, 7-9 Juli 2017, di Gedung Widya Mitra, Semarang.

Briyan menyampaikan pendapatnya tentang kondisi pertelevisian di Indonesia melalui karya seni lukis yang menggunakan media cat air di atas kanvas. Dalam karyanya juga terkandung pesan bagi para pengunjung pameran untuk merasakan dan merenungi kondisi tayangan televisi masa kini.

Saya sudah cukup lama tidak melihat karya lukis dalam ukuran besar. Jadi, saya terkagum-kagum saat memasuki ruang pameran di lantai 2 Gedung Widya Mitra dan mendapati 8 lukisan yang semuanya berukuran 180 × 130 cm. Masing-masing lukisan mewakili pokok permasalahan di tayangan televisi, yaitu tentang agama, psikologis, sosial, pendidikan, budaya, hukum, bidang profesi, dan alam.

Briyan yang sudah banyak mengikuti pameran sejak tahun 2011 ini, lebih suka menggunakan media cat air untuk lukisannya. Warna-warna yang digunakan cenderung feminin, atau kalau menurut saya: kalem. Pemilihan warnanya enak dipandang dan membuat saya tidak bosan-bosan memandangi lukisannya. Terutama karena penerapan cat air dengan gradasinya yang tumpang tindih, teknik yang buat saya selalu memberi kesan misterius dan kaya dimensi.

Lukisan berjudul “KEDAMAIAN YANG BAGAIMANA?” merupakan lukisan pertama yang menyambut saya dan para pengunjung lain. Jika dilihat sekilas tampak seperti lukisan abstrak. Namun, jika dilihat lebih baik lagi, ada bentuk-bentuk yang hampir tersembunyi di antara warna dominan biru dan merah. Lukisan ini seakan menunjukkan kekacauan yang disebabkan oleh ego dan ketiadaan toleransi.

IMG_20170707_213342

Favorit saya adalah lukisan berjudul “APATIS, MENJAMUR, DAN ALAMKU HANCUR” dengan perpaduan warna hijau, salem, dan ungu yang meneduhkan mata. Topik lingkungan memang seharusnya lebih sering diangkat di televisi agar meningkatkan kepedulian dan pengetahuan masyarakat akan kondisi alam sekitar. Ketidakpedulian pada alam akan menyebabkan kehancuran manusia bersama-sama dengan alam.

IMG_20170707_213517

Dari segi konsep, lukisan berjudul “PENCARI TOPIK, BUKAN PENIKMAT PROSES” sangat menarik. Mengutip catatan pendek yang tertempel di samping karya:

Pemikiran instan dapat membutakan manusia perihal keinginan memburu hasil secara mudah dan terpengaruh oleh hal-hal di luar kendali. Menikmati proses dengan teguh berprinsip semakin jarang ditemui di tiap-tiap manusia, kini.

IMG_20170707_212858

Lukisan berjudul “DESKRIMINASI KARAKTER” (atau mungkin lebih tepatnya “diskriminasi karakter”) memikat mata saya dengan pancaran warna ungunya. Pertelevisian Indonesia, contohnya sinetron, memisahkan karakter jahat dan baik, miskin dan kaya seakan-akan ada pembatas yang jelas di antaranya. Padahal pada kenyataannya tidak demikian.

IMG_20170707_212331

IMG_20170707_210923
“PASSION, HIDUP, DAN MENGHIDUPI”
IMG_20170707_211104
“MELEK HUKUM DI NEGARA HUKUM?”
IMG_20170707_214021
Hiburan musik di lantai dasar
IMG_20170707_212043
Pengunjung pameran di hari pembukaan

Tidak terasa ternyata review terakhir saya tentang pameran seni rupa sudah hampir dua tahun yang lalu. Padahal selama rentang waktu itu saya sempat datang ke beberapa pameran, yaitu ZOOCIOLOGY oleh Akbar Radityatama (IG: @akbarr.walkink) pada 10 April 2017, pameran seni Lukis Batik oleh Aeliya Nofita pada 30 Oktober 2016, dan pameran ORBIT yang melibatkan para perupa Semarang pada 22 Juni 2016. Terima kasih pada Danni Febriana, kawan perupa asal Cilacap, yang sudah mengingatkan saya untuk kembali menulis review pameran. Semoga bertemu lagi di pameran-pameran berikutnya.

Media sosial Briyan Farid:

Blog: briyan-goriwaco.blogspot.com

Fb: Briyan Farid

Twitter: @briyan_farid

Instagram @briyan_farid

GAPPALA UKDW di ACC III – Semarang

Jadi, hari ini (Sabtu, 4 Maret) adalah hari yang luar biasa buat saya. Siang tadi waktu jalan-jalan di CL (Citraland Mall), secara nggak sengaja ketemu sama sepupu dari Kudus. Lalu, waktu sudah di rumah, nggak berapa lama kemudian dapat kabar dari saudara yang lain kalau mereka lagi di Semarang.

Saya selalu senang kalau ketemu saudara. Dan hari ini senangnya dobel. Apalagi kalau saudara saya itu dari GAPPALA UKDW yang sedang ikut lomba panjat di UDINUS.

Setelah dapat kabar, saya nggak perlu waktu lama untuk siap-siap plus makan siang, lalu meluncur ke UDINUS yang jaraknya dari rumah sekitar 15 menit naik motor. Saya nggak langsung ketemu mereka waktu sampai di lokasi. Kemungkinan mereka ada di ruang karantina peserta, menunggu giliran.

Kompetisi panjat tingkat Jawa Tengah yang diselenggarakan oleh Mapala UDINUS, Aldakawanaseta ini terdapat nomor lead untuk kategori umum, Mapala, dan pelajar, baik putra maupun putri. Pada daftar peserta Lead Mapala Putra yang ditempel di papan pengumuman, saya melihat dua nama peserta dari GAPPALA UKDW di sana. Lumayan banyak juga peserta untuk nomor lead ini, hampir 100 peserta, dan sepertinya saya belum terlambat untuk melihat giliran dua saudara saya.

Jadi, saya duduk bersama penonton lain untuk melihat para peserta yang bertanding. Agak lama juga hingga akhirnya nama Fery Liyut (Tune) disebut, peserta pertama yang mewakili GAPPALA, untuk mempersiapkan diri. Kemudian masih beberapa peserta lagi barulah giliran Faldi Lara (Upkay).

gappala-ukdw_tune
Fery Liyut (Tune) dari GAPPALA UKDW
gappala-ukdw_upkay
Faldi Lara (Upkay) dari GAPPALA UKDW

Sepanjang sore hingga malam tadi saya nyaman sekali menonton para peserta panjat sambil menyapa dan ngobrol dengan teman-teman Mapala lainnya. Momen berharga yang jarang saya dapatkan selepas kuliah. Bertukar cerita dengan Tune dan Upkay tentang teman-teman di GAPPALA dan kegiatannya bikin saya teringat masa-masa kuliah dulu ketika masih sering nongkrong dan berkegiatan di GAPPALA.

Bagi saya, GAPPALA bukan sekedar organisasi, tapi juga keluarga. Kuliah saya menjadi lebih menyenangkan karena saya punya saudara-saudara di GAPPALA—dengan berbagai kegiatan dan juga konflik di dalamnya. Selepas kuliah, kekeluargaan di GAPPALA masih dan selalu melekat erat. Kami terus menjalin komunikasi. Entah itu yang satu generasi, maupun lintas generasi. Maka, walaupun sudah jadi alumni, saya bisa mengikuti perkembangan kegiatan GAPPALA dan membantu bila diperlukan.

Namun, mendapat informasi dari media sosial maupun berinteraksi lewat ponsel, tak bisa sepenuhnya melegakan rasa kangen. Jadi, bisa ketemu dan ngobrol dengan mereka berdua benar-benar menyenangkan. Setelah sekian lama, saya pun merasa utuh kembali.

Tune dan Upkay berangkat bersama rombongan Mapala Jogja lainnya. Selain GAPPALA, ada tiga Mapala lagi, yaitu Mushroom UTY, MAPAWIMA, dan MAPALISTA. Mereka ramai-ramai naik motor ke Semarang hari Jumat malam.

GAPPALA nggak lolos di kompetisi kali ini. Tapi, saya bangga pada dua saudara saya yang di tengah kesibukannya menyelesaikan skripsi masih bisa meluangkan waktu untuk membawa nama GAPPALA di dunia persilatan kancah kompetisi nasional dan menjalin keakraban dengan Mapala lain. Saya juga senang bisa turut merasakan semangat perjuangan di Aldakawanaseta Climbing Competition (ACC) III ini. Semangat positif yang menular.

Masih banyak pertandingan lain menanti, banyak kesempatan untuk diraih. Hidup dan jayalah selamanya, GAPPALA UKDW.

acc-iii_gappala-ukdw
Saya bersama para atlet panjat GAPPALA, Upkay (kiri) dan Tune (kanan)

The Lord of the Rings: The Making of Movie Trilogy

Salah satu toko buku di Semarang sedang mengadakan pesta buku murah. Jadi, di awal bulan Oktober ini saya ke sana dengan harapan mendapat satu atau dua novel yang menarik dengan harga miring. Sayangnya saya tak menemukan novel yang cukup menarik untuk dibeli. Tapi saya menemukan kamus saku yang sudah lama saya inginkan dengan harga yang sangat terjangkau. Dan adik saya menemukan buku yang buat para penggemar The Lord of the Rings (LOTR) adalah buku wajib punya, yaitu The Lord of the Rings: The Making of the Movie Trilogy oleh Brian Sibley. Buku itu ada di tumpukan buku-buku impor murah. Karena buku itu hanya satu-satunya, jadi akan sangat sayang kalau dibiarkan begitu saja untuk dibeli penggemar LOTR lain.

making_of_lord_of_the_rings

Kisah Middle Earth buat saya adalah kisah sepanjang masa. Saya tak pernah bosan menonton filmnya dan bernostalgia tentang sepak terjang tokoh-tokohnya. Menurut saya, trilogi film LOTR adalah karya novel jadi film terbaik yang pernah saya tonton. Memang ada beberapa bagian dalam novel yang hilang, tapi jalan cerita di filmnya tetap mulus dan menggambarkan suasana Middle Earth seindah novelnya.

Dalam The Making of the Movie Trilogy terdapat foto-foto selama pembuatan film, ilustrasi, dan wawancara dengan berbagai kru dan aktor yang terlibat. Melalui buku 192 halaman berwarna ini Brian Sibley membawa kita menyelami proses pembuatan film untuk menunjukkan bagaimana keajaiban Middle Earth dibuat. Tak terasa sudah sekitar 17 tahun berlalu sejak pembuatan film yang pertama dimulai.

Setelah saya membaca beberapa bagian dari The Making of the Movie Trilogy, pandangan saya tentang pembuatan film LOTR jadi semakin terbuka. Sang sutradara, Peter Jackson, dengan gigih menginginkan Middle Earth menjadi senyata mungkin. Orang-orang hebat yang ahli di bidangnya  dilibatkan dalam prosesnya. Semua detail properti dalam naskah LOTR maupun deskripsi para tokoh yang ada di novelnya dengan cermat divisualisasikan. Dari lumpur, peralatan perang, miniatur, rambut palsu, hingga kostum, efek khusus, semuanya. Tak ada detail yang terlewat atau diremehkan. Kerja keras, kreatifitas, dan teknologi digunakan untuk mewujudkan Middle Earth ciptaan J. R. R. Tolkien menjadi nyata.

The BFG – Big Friendly Giant

Saya termasuk orang yang jarang nonton di bioskop. Bisa dihitung dengan jari berapa kali saya nonton di bioskop. Saya memang lebih suka nonton film sendiri atau bersama keluarga di rumah. Walaupun memang efek suara pasti lebih dapet kalau nonton di bioskop, tapi pastinya kalau nonton sendiri lebih bebas berekspresi—selain lebih irit juga.

Hanya film-film tertentu saja yang saya bela-belain nonton di bioskop. Salah satunya yang terakhir saya tonton adalah The BFG pada hari Minggu 11 September lalu. Para penggemar Roald Dahl pasti tahu. Saya dan adik perempuan saya janjian untuk nonton film ini di bioskop sejak dapat info tanggal rilisnya, tinggal tunggu tayangnya di bioskop Semarang.

The BFG tidak sepopuler Finding Dory—berdasarkan rating IMDb—yang dirilis hampir bersamaan. Tepatnya Finding Dory dirilis 12 Juni 2016, sedangkan The BFG 1 Juli 2016—di Amerika. Anak-anak mungkin lebih suka menonton ikan yang lucu daripada raksasa setinggi rumah dan memakan anak-anak, kecuali BFG tentunya.

Saya sudah baca novelnya lama berselang, punya adik saya yang mengoleksi novel Roald Dahl. Novel yang diterbitkan pertama kali tahun 1982 ini tidak terlalu tebal, versi bahasa Indonesianya hanya 200 halaman dan ada coretan ilustrasi Quentin Blake yang khas itu seperti di novel-novel Roald Dahl lainnya.

the-bfg-cover

Kalau menonton film yang diangkat dari novel, otomatis kita akan membandingkan keduanya. Tapi saya berusaha untuk bersikap netral. Saya masih ingat cerita di novelnya, tapi tidak memaksakan bahwa film harus persis dengan novel. Walaupun ada beberapa film yang memang sangat mengecewakan jika dibandingkan dengan novelnya—belum perlu saya sebut di sini. Untuk film The BFG ini saya ingin menikmati benar-benar suasana filmnya. Memang beberapa bagian sama dengan novel, beberapa bagian tidak. Buat saya, film ini memuaskan. Terima kasih pada Walt Disney Pictures dan beberapa rumah produksi lainnya, serta Steven Spielberg sebagai sutradara.

Ini sedikit cuplikan kisah The BFG.

BFG atau Big Friendly Giant adalah sebutan untuk raksasa besar yang baik. Dia menculik Sophie dari tempat tidurnya di suatu panti asuhan karena Sophie memergokinya berkeliaran di jalanan pada malam hari. (Sayangnya apa yang sebenarnya sedang dilakukan BFG saat itu—sesuai dengan novelnya—tidak ditunjukkan di film, hanya kelihaian-kelihaian dia menyembunyikan diri dari pandangan manusia). Sophie dibawa ke tempat tinggal BFG di negeri raksasa agar tak membocorkan keberadaannya. Sophie jadi tahu bahwa ada raksasa-raksasa lain yang jauh lebih besar dari BFG dan sangat jahat. Raksasa-raksasa itu memakan anak-anak di berbagai negara dan suka sekali mengganggu BFG. Sophie ingin menghentikan raksasa-raksasa itu. Jadi, dia membujuk BFG untuk membantunya. Maka, mereka membuat rencana spektakuler yang berkaitan dengan terompet peniup mimpi dan Ratu Inggris.

THIK POL–Pameran Seni Rupa dan Arsip KSB ES-A UNISSULA

11136779_1040136662681780_7595202865866998061_n

Pameran seni rupa dan arsip yang merupakan program dari Departemen Seni Rupa UKM KSB (Kelompok Seni Budaya) ES-A UNISSULA bertajuk “Thik Pol – Putaran Pertaruhan” ini diselenggarakan tanggal 13-17 April 2015 di Klub Merby, Jl. MT. Haryono No. 653, Semarang. Menampilkan karya dari 10 seniman yang dikuratori oleh M. Salafy Handoyo dari ORArT ORET. Para seniman yang terlibat yaitu Isma Isna Sanny, Ramadita Bagus S., M. Zaky Mubarok, Ilham Setyawan, Febrian Jalu, Awit Anggara, Ade Ayu A., Eri Hariyanto, Gozi Prayudi, dan Riyan Antoni W.

Lanjutkan membaca “THIK POL–Pameran Seni Rupa dan Arsip KSB ES-A UNISSULA”

KOLING–Kodály Keliling

11051917_1031501403545306_7944523122049974973_o

I’m back! … setelah sekian lama galau sibuk dengan berbagai aktivitas. Fufufu.

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba dan saya pun bisa meluangkan waktu untuk hadir ke sebuah acara yang spesial di ORArT ORET ArtSpace pada Jumat, 10 April 2015 lalu. Ruang seni tersebut menjadi tuan rumah konser tunggal cello oleh Alfian Emir Adytia, seorang cellist dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta, sebagai bagian dari program KOLING (Kodály Keliling).

Alvin, panggilan akrab Alfian, menggagas program KOLING dengan membawakan komposisi cello tunggal, Sonata for Solo Cello Opus 8 gubahan Zoltan Kodály ke beberapa kota di Pulau Jawa dan Malaysia, yaitu Yogyakarta, Surabaya, Semarang, Salatiga, Jakarta, dan Sarawak. Program ini berawal ketika Alvin mendapatkan inspirasi dari sebuah film dokumenter yang memperlihatkan suasana hutan tropis di Amazon. Lalu sebuah ide muncul untuk bermain cello dengan karya masterpiece di luar ruangan formal seperti di tengah hutan, puncak gunung, maupun tempat di alam bebas lainnya. Ide ini berkembang menjadi sebuah konsep tur yang bebas dan menyesuaikan kebutuhan tempat tujuan.

Lanjutkan membaca “KOLING–Kodály Keliling”