KOLING–Kodály Keliling

11051917_1031501403545306_7944523122049974973_o

I’m back! … setelah sekian lama galau sibuk dengan berbagai aktivitas. Fufufu.

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba dan saya pun bisa meluangkan waktu untuk hadir ke sebuah acara yang spesial di ORArT ORET ArtSpace pada Jumat, 10 April 2015 lalu. Ruang seni tersebut menjadi tuan rumah konser tunggal cello oleh Alfian Emir Adytia, seorang cellist dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta, sebagai bagian dari program KOLING (Kodály Keliling).

Alvin, panggilan akrab Alfian, menggagas program KOLING dengan membawakan komposisi cello tunggal, Sonata for Solo Cello Opus 8 gubahan Zoltan Kodály ke beberapa kota di Pulau Jawa dan Malaysia, yaitu Yogyakarta, Surabaya, Semarang, Salatiga, Jakarta, dan Sarawak. Program ini berawal ketika Alvin mendapatkan inspirasi dari sebuah film dokumenter yang memperlihatkan suasana hutan tropis di Amazon. Lalu sebuah ide muncul untuk bermain cello dengan karya masterpiece di luar ruangan formal seperti di tengah hutan, puncak gunung, maupun tempat di alam bebas lainnya. Ide ini berkembang menjadi sebuah konsep tur yang bebas dan menyesuaikan kebutuhan tempat tujuan.

ORArT ORET mendapat kesempatan luar biasa untuk menjadi tuan rumah KOLING di Semarang. ORArT ORET ArtSpace yang diresmikan tgl 7 Desember 2014 di Jl. Kelud Raya No. 10 ini menyediakan ruang seni tak hanya untuk seni rupa, tapi berbagai bidang seni lain, termasuk seni musik.

Saya sendiri cukup antusias saat mengetahui program ini, sekaligus heran. Cello? Di ORArT ORET? Saya pernah beberapa kali menonton orkestra, tapi untuk konser tunggal baru pertama kalinya. Apalagi konser tunggal cello, sebuah instrumen musik yang biasanya hanya saya jumpai menjadi bagian dalam orkestra. Walaupun ada juga sebuah band yang menjadikan cello sebagai “aktor” utama, yaitu Apocalyptica, sebuah band metal asal Finlandia yang memainkan 3 cello dan drum.

Karena penasaran seperti apa komposisi Sonata for Solo Cello Opus 8 itu, beberapa hari sebelum acara saya mengunduh sebuah video dari youtube—yang tidak sempat saya tonton sampai selesai. Ternyata sebuah cello pun bisa menghasilkan nada-nada yang memikat.

10653625_10207092385372236_1432504143558321636_n

(ORArT ORET doc)

11081452_10206431969582293_7479425497038376067_n

(ORArT ORET doc)

Acara digelar di ruangan sederhana dengan mural dari kapur dan pastel yang secara khusus disiapkan oleh Dadang Pribadi, ketua ORArT ORET. Kondisi ruangan mungkin bisa dibilang tidak layak sebagai ruang pertunjukan musik klasik. Satu hal yang sempat terbersit di benak saya dan dengan gamblang diungkapkan oleh Donny Danardono, moderator acara ini, pada saat sesi diskusi dan bedah karya berlangsung. Namun, hal tersebut merupakan bagian dari program KOLING yaitu memperdengarkan musik di luar ruang formal yang dianggap sakral bagi penikmat musik klasik pada umumnya.

1511901_1038529329509180_4293350096163600850_n(ORArT ORET doc)

Para hadirin duduk santai di lantai—lesehan—dalam suasana remang-remang nan syahdu selama permainan tunggal cello yang terdiri dari 3 bagian berlangsung. Lampu yang menyorot Alvin dan cello-nya memberi efek pencahayaan yang membawa hadirin terfokus pada alunan cello walaupun selama Alvin membawakan komposisi dari Kodály tersebut, berbagai warna suara dari lingkungan sekitar—suara blender di café sebelah, orang bercakap-cakap di luar, kendaraan yang melintas di jalan raya—turut berbaur bersama gesekan Sonata. Ini hal yang tidak biasa di ranah musik klasik, namun justru itulah yang ingin disampaikan Alvin. Musik klasik biasanya dinikmati di tengah suasana yang hening, tapi para hadirin bahkan Alvin sendiri diajak untuk menerima kondisi yang ada.

10257495_1038526919509421_791292546631303292_o

(ORArT ORET doc)

11110175_1037496072945839_810483164821001716_n

 (ORArT ORET doc)

11110804_1038527249509388_4480627707855011840_n

(ORArT ORET doc)

Music belongs to everybody. Kodály berpendapat bahwa musik tak hanya untuk para bangsawan atau rakyat menengah ke atas yang dapat menikmatinya di ruang pertunjukan tertutup tanpa gangguan, tapi untuk semua lapisan masyarakat di manapun mereka berada. Musik yang merakyat.

11102775_1037497349612378_289131735914698122_n

(ORArT ORET doc)

Setiap komposisi musik memiliki teka-tekinya sendiri, kata Alvin. Sonata Kodály dengan gaya Hungaria-nya merupakan komposisi yang menuntut kemampuan teknik yang tinggi dan Alvin belum benar-benar mulus memainkannya, seperti yang diakui pemuda ramah dan murah senyum itu. Tapi bukan hanya teknik yang penting di sini, makna yang ada di balik musik itu pun perlu dipahami. Alvin berlatih cello 2 jam sehari untuk menguasai teknik dan melatih kemampuan musiknya 8 jam sehari  untuk menyerap setiap nada dan makna dari Sonata Kodály. Semua proses dilaluinya tanpa paksaan hingga nada-nada itu bisa mewujud dan mengalir melalui cello-nya.

11149401_1037507499611363_4766682255580402350_n(ORArT ORET doc)

Berdasarkan diskusi dan bedah karya yang berlangsung di ORArT ORET Art Space, banyak sekali hal yang bisa digali dari Sonata for Solo Cello Opus 8, juga dedikasi Kodály pada zamannya untuk mengenalkan musik klasik yang lebih serius melalui lagu-lagu rakyat.

Dengan semangat dan kecintaannya terhadap musik, Alvin telah berhasil memukau para hadirin dan membuka wawasan baru mengenai musik klasik, khususnya melalui instrumen cello. Semoga program KOLING ini memberi dampak yang lebih luas dan mendekatkan cello, serta musik klasik ke tengah masyarakat.

Agus Budi Santoso doc
Alfian Adytia, Donny Danardono, Dadang Pribadi

(Agus Budi Santoso doc)

13784_1037495279612585_8687230983122946026_n(ORArT ORET doc)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s