Pada tanggal 4 – 6 Desember 2009 yang lalu, PKBI (Persatuan Keluarga Berencana Indonesia) menyelenggarakan acara untuk memperingati Hari AIDS dan 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan yang bertempat di Monumen Serangan Umum 1 Maret, Yogyakarta. Selama tiga hari acara diisi dengan berbagai pementasan dari komunitas-komunitas di kota Yogyakarta. Di antaranya terdapat pementasan band lokal, pementasan musik dan puisi dari pengamen Benteng, Komunitas Kebaya (Keluarga Banci Yogyakarta), pementasan teater oleh Komunitas Sintenasmane, dan penutupan dengan pagelaran wayang di hari terakhir.
Pementasan teater oleh Komunitas Sintenasmane diadakan pada hari ketiga pukul 15.00. Pementasan Rama-Shinta dengan judul “Shinta Memilih” tersebut merupakan pementasan perdana bagi komunitas ini yang baru terbentuk pada bulan September 2009.
Awalnya, ide untuk membentuk sebuah komunitas teater tercetus dari Andara yang lulusan ISI (Institut Seni Indonesia). Ia berpikir bahwa lebih baik melakukan sesuatu yang bersifat positif dan bermanfaat daripada hanya nongkrong bersama teman-teman tanpa melakukan apapun. Kemudian dia mengumpulkan teman-teman yang berminat dan mengungkapkan idenya. Awalnya teman-teman yang terkumpul cukup banyak, tetapi setelah beberapa kali latihan, hanya tertinggal teman-teman yang rajin latihan saja. Bersama teman-teman inilah nama Sintenasmane muncul, berasal dari bahasa Jawa yang artinya dalam bahasa Indonesia adalah “siapa namanya”.
Pementasan Rama-Shinta disutradarai oleh Tata alias Ithink, berdasarkan skenario oleh Andara. Para pemainnya yaitu: Prolog dan Epilog – Deojha, Rama – Egi, Shinta – Tyas, Rahwana – Dian, Hanoman – Awe, Petapa Tua – Andara, backing vocal – Cheche, Edhit, Itho, dan Nefri. Untuk koreografi Ithink sang sutradara dibantu oleh teman-teman dari ISI. Yang unik dari komunitas ini, semua pemainnya adalah perempuan.
Hari Minggu (06/12) aku tiba di lokasi sekitar pukul 14.30. Acara saat itu adalah pementasan musik dan puisi. Tentunya para pemain yang akan pentas pukul 15.00 sedang bersiap, maka aku berjalan ke belakang panggung. Dan di sanalah mereka, sedang berdandan dan melakukan persiapan lainnya. Untuk pertama kalinya aku mengintip para pemain teater yang sedang bersiap untuk pementasan. Salah satu temanku ada di antara mereka, dia berperan menjadi Hanoman.
Menjelang pementasan, beberapa temanku pun datang. Langit Jogja di sore itu memang agak mendung, tetapi selama pementasan cuaca cukup cerah. Hujan sempat turun beberapa saat di penghujung pementasan, tetapi tidak deras.
Pementasan yang berakhir sekitar pukul 17.00 berlangsung dengan baik dan sukses, ditutup dengan lagu “Indonesia Pusaka” yang dinyanyikan oleh para pemain.
Tentu aku tak melewatkan kesempatan untuk berfoto bersama Hanoman, tokoh kesukaanku dalam pewayangan, yang diperankan oleh Awe “Indil”, temanku sendiri. Juga berfoto bersama Rahwana yang diperankan oleh Dian. Sangat keren.
Seusai menonton pementasan dan berfoto, aku tak langsung pulang. Bersama beberapa teman, kami memutuskan untuk menikmati wedang ronde di pinggir jalan Malioboro untuk menghangatkan tubuh di malam yang dingin. Malioboro di malam hari tampak sangat berbeda. Tidak sering aku melewatkan malam hari berjalan di Malioboro, apalagi bersama teman-teman, jadi malam itu adalah malam yang menyenangkan untukku.
Akhir kata, sukses untuk komunitas Sintenasmane. Ditunggu karya-karya berikutnya. ^ ^
Silakan klik di sini untuk info lebih jauh mengenai Komunitas Sintenasmane melalui facebook.













