Feeds:
Posts
Comments

Pada tanggal 4 – 6 Desember 2009 yang lalu, PKBI (Persatuan Keluarga Berencana Indonesia) menyelenggarakan acara untuk memperingati Hari AIDS dan 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan yang bertempat di Monumen Serangan Umum 1 Maret, Yogyakarta. Selama tiga hari acara diisi dengan berbagai pementasan dari komunitas-komunitas di kota Yogyakarta. Di antaranya terdapat pementasan band lokal, pementasan musik dan puisi dari pengamen Benteng, Komunitas Kebaya (Keluarga Banci Yogyakarta), pementasan teater oleh Komunitas Sintenasmane, dan penutupan dengan pagelaran wayang di hari terakhir.

Pementasan teater oleh Komunitas Sintenasmane diadakan pada hari ketiga pukul 15.00. Pementasan Rama-Shinta dengan judul “Shinta Memilih” tersebut merupakan pementasan perdana bagi komunitas ini yang baru terbentuk pada bulan September 2009.

Awalnya, ide untuk membentuk sebuah komunitas teater tercetus dari Andara yang lulusan ISI (Institut Seni Indonesia). Ia berpikir bahwa lebih baik melakukan sesuatu yang bersifat positif dan bermanfaat daripada hanya nongkrong bersama teman-teman tanpa melakukan apapun. Kemudian dia mengumpulkan teman-teman yang berminat dan mengungkapkan idenya. Awalnya teman-teman yang terkumpul cukup banyak, tetapi setelah beberapa kali latihan, hanya tertinggal teman-teman yang rajin latihan saja. Bersama teman-teman inilah nama Sintenasmane muncul, berasal dari bahasa Jawa yang artinya dalam bahasa Indonesia adalah “siapa namanya”.

Pementasan Rama-Shinta disutradarai oleh Tata alias Ithink, berdasarkan skenario oleh Andara. Para pemainnya yaitu: Prolog dan Epilog – Deojha, Rama – Egi, Shinta – Tyas, Rahwana – Dian, Hanoman – Awe, Petapa Tua – Andara, backing vocal Cheche, Edhit, Itho, dan Nefri. Untuk koreografi Ithink sang sutradara dibantu oleh teman-teman dari ISI. Yang unik dari komunitas ini, semua pemainnya adalah perempuan.

Hari Minggu (06/12) aku tiba di lokasi sekitar pukul 14.30. Acara saat itu adalah pementasan musik dan puisi. Tentunya para pemain yang akan pentas pukul 15.00 sedang bersiap, maka aku berjalan ke belakang panggung. Dan di sanalah mereka, sedang berdandan dan melakukan persiapan lainnya. Untuk pertama kalinya aku mengintip para pemain teater yang sedang bersiap untuk pementasan. Salah satu temanku ada di antara mereka, dia berperan menjadi Hanoman.

Belakang panggung

Hanoman sedang di-make up

Rahwana sedang di-make up

Menjelang pementasan, beberapa temanku pun datang. Langit Jogja di sore itu memang agak mendung, tetapi selama pementasan cuaca cukup cerah. Hujan sempat turun beberapa saat di penghujung pementasan, tetapi tidak deras.

Prolog

Rama dan Shinta, pasangan yang berbahagia

Para penonton

Rahwana hendak menculik Shinta

Rahwana hendak menculik Shinta

Hanoman memporakporandakan istana Rahwana

Pertarungan antara Rahwana dengan Hanoman

Para pemain

Pementasan yang berakhir sekitar pukul 17.00 berlangsung dengan baik dan sukses, ditutup dengan lagu “Indonesia Pusaka” yang dinyanyikan oleh para pemain.

Tentu aku tak melewatkan kesempatan untuk berfoto bersama Hanoman, tokoh kesukaanku dalam pewayangan, yang diperankan oleh Awe “Indil”, temanku sendiri. Juga berfoto bersama Rahwana yang diperankan oleh Dian. Sangat keren.

(dari kiri ke kanan) Anton"Pacul", Sabbath, Itho, Hanoman "Awe", dan Adit

(dari kiri ke kanan) Sabbath, Rahwana "Dian", dan Anton "Pacul"

Seusai menonton pementasan dan berfoto, aku tak langsung pulang. Bersama beberapa teman, kami memutuskan untuk menikmati wedang ronde di pinggir jalan Malioboro untuk menghangatkan tubuh di malam yang dingin. Malioboro di malam hari tampak sangat berbeda. Tidak sering aku melewatkan malam hari berjalan di Malioboro, apalagi bersama teman-teman, jadi malam itu adalah malam yang menyenangkan untukku.

Akhir kata, sukses untuk komunitas Sintenasmane. Ditunggu karya-karya berikutnya. ^ ^

Silakan klik di sini untuk info lebih jauh mengenai Komunitas Sintenasmane melalui facebook.

Aku menghabiskan akhir bulan Desember 2009 di Semarang, kota asalku. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, aku selalu kembali ke kota ini sebelum Natal. Banyak event digelar di penghujung tahun untuk menyambut tahun baru. Namun, biasanya aku hanya menikmati akhir tahunku di rumah tanpa menghadiri acara apapun. Bukannya tak suka keramaian, tapi lebih karena tak ada teman yang mengajak [menyedihkan sekali].

Tapi ada yang berbeda di penghujung tahun 2009 yang lalu. Aku datang ke sebuah acara di Duta Pertiwi (DP) Mall, salah satu mall di kota Semarang yang terletak di Jalan Pemuda. Aku memperoleh info mengenai acara itu beberapa hari sebelumnya. Acara yang bernama Full Respect – Party Band Indie tersebut diadakan pada tanggal 31 Desember 2009, pukul 11.00 siang hingga pukul 02.00 pagi. Sebuah acara dari Times Production dan GB14 Record yang digelar untuk menyambut tahun baru sekaligus memberi kesempatan bagi band-band indie di kota Semarang dan sekitarnya untuk berkarya dan menunjukkan kreativitas mereka. Untuk acara ini panggung diset di depan pintu masuk DP Mall sehingga para pengunjung yang datang langsung disambut oleh penampilan band.

SEKAZO yang merupakan komunitas J-Music di kota Semarang menurunkan enam band-nya pada pembukaan acara: Mort Ou Vif, Loli Candy, Holiday in the Zoo, The Imbisils, Haypers, dan The Lemonade. Masing-masing membawakan lagu berbahasa Jepang maupun lagu ciptaan mereka sendiri. Band-band dari SEKAZO tampil hingga pukul 14.00. Setelah itu, band-band indie lainnya bergulir mengisi acara, lebih dari sepuluh band indie turut serta meramaikan pesta band indie ini.

Salah satu band yang tergabung dalam SEKAZO, Giga of Spirit (GoS), mengisi acara yang dimulai sekitar pukul 18.30 setelah penampilan modern dance dari Sweeeties Dancer. GoS membawakan dua lagu ciptaan mereka, “Goodbye” dan “Assickteru”, serta meng-cover satu lagu berbahasa Jepang dari Maximum the Hormone, sebuah band asal Negeri Sakura. Walaupun acara masih terus berlangsung hingga jelang tahun baru 2010, tetapi aku pulang setelah puas ber-head bang bersama GoS dengan lagu-lagunya yang nge-rock abis.

Acara masih berlanjut dengan penampilan band-band lainnya. Di puncak acara, kembang api pun dinyalakan untuk menyambut Tahun Baru 2010.

Terima kasih kepada teman-teman yang sudah menemani di penghujung tahun 2009. Saat-saat yang sangat berkesan untukku. Semoga kita bisa menghabiskan waktu bersama lagi di acara-acara berikutnya. ^ ^

Pada Minggu (20/12/09) SEKAZO mengadakan sebuah acara launching album yang pertama “1st Attack!!! Semarang J-Band Compilation Vol. 1” di Ours Café, sebuah café di kawasan Candi Asri. SEKAZO atau Semarang’s Kazoku merupakan sebuah komunitas J-Music di kota Semarang yang berdiri pada tanggal 24 April 2009.

Pada acara launching album ini, dengan hanya membayar Rp 15.000,00 pengunjung memperoleh satu album kompilasi SEKAZO yang berisi sembilan lagu dari sembilan J-band Semarang. Setelah acara, album tersebut dijual dengan harga Rp 20.000,00.

Kesembilan band tersebut yaitu Sacromary dengan “Butterfly Story”, Hansamuna Hito dengan “Berakhir di Sini”, Azumi dengan “Saturday”, The Lemonade dengan “Sesal”, Haypers dengan “Takkan Lagi”, Neko dengan “Takkan Kembali”, Extract Dragon dengan “Stricking the Marvel Sky”, Giga of Spirit dengan “Assickteru”, dan Class of Heroes dengan “Class of Heroes”.

Acara yang dimulai pukul 15.00 ini sempat terhalang oleh hujan karena panggung diset outdoor di bawah sebuah pohon beringin yang terdapat di halaman café. Walaupun begitu, para pengunjung tetap setia menanti hujan reda agar acara bisa dimulai kembali. Selama itu, MC berbaur dengan pengunjung yang ada di dalam café untuk mencairkan suasana dan membagikan beberapa doorprize. Sembari menunggu, pengunjung juga menikmati menu yang ditawarkan oleh Ours Café.

Setelah hujan akhirnya reda, penampilan band dilanjutkan kembali. Kesembilan band tidak hanya membawakan lagunya masing-masing, tetapi juga membawakan lagu-lagu band kesayangan mereka dari Negeri Sakura.

Menurutku, acara yang berakhir sekitar pukul 21.00 ini terbilang sukses. Pengunjung yang datang untuk menonton cukup banyak dengan antusias yang tinggi pula. Salut untuk SEKAZO. Semoga sebagai sebuah komunitas J-Music di Semarang, SEKAZO dapat mewujudkan kerinduan para penggemar J-Music di Semarang dan sekitarnya.

Ganbatte minna-san!! ^ ^

Klik di sini untuk bergabung dalam grup SEKAZO melalui facebook.

Akhirnya pada hari Rabu (13/05) kemarin aku meminjam “Bumi Manusia” karangan Pramoedya Ananta Toer yang terkenal itu—bukunya maupun pengarangnya—di perpustakaan. Sebenarnya sudah sejak awal masuk kuliah aku dikenalkan pada judul itu, juga pengarangnya. Waktu itu aku sama sekali tidak tahu siapa itu Pramoedya Ananta Toer, bahkan karya-karyanya. Suatu nama yang asing buatku saat itu, aku masih ingat.

Dua orang—mungkin tiga—sudah merekomendasikan padaku karya Pram yang merupakan tetralogi itu. Memang membuatku penasaran, tapi kuurungkan juga niatku untuk mencari buku itu di perpustakaan. Kadang memang karena lupa, tapi terlebih karena minatku pada karya sastra Indonesia agak kurang—walaupun sudah lebih baik ketika mulai masuk kuliah. Kusangka akan membosankan, apalagi bukunya cukup tebal, tetralogi pula.

Selama rentang waktu itu aku membaca beberapa karya sastra Indonesia. Aku lebih mencari karya Seno Gumira Ajidarma. Satu kumpulan cerpennya, “Sepotong Senja untuk Pacarku” telah memukau hatiku ketika aku menemukan buku itu di rak perpustakaan sekolahku saat aku SMA. Saat kuliah aku membeli buku itu di pameran buku, tahun 2007.

Karya sastra Indonesia yang kubaca biasanya sebatas kumpulan cerpen atau novel yang tak terlalu tebal. Beberapa bahkan terlalu absurd untuk dimengerti, tapi menyenangkan untuk dinikmati.

Di hari-hari yang membosankan belakangan ini, kuputuskan juga untuk meminjam buku sebagai pengisi waktu dan pikiran. Saat yang tepat untuk meminjam “Bumi Manusia”. Tanpa perlu mencari melalui database di komputer yang telah disediakan, aku langsung saja menuju rak paling ujung. Memang di situlah ditata buku-buku yang umumnya bukan merupakan bidang di fakultas manapun di kampusku (berbagai macam karya sastra fiksi dan nonfiksi dari luar maupun dalam negeri). Aku lebih suka mencari secara manual untuk urusan satu ini, jadi aku bisa sambil melihat-lihat buku lain daripada hanya mencari satu buku dari kode yang kuperoleh.

Aku berpikir tak hanya ingin meminjam satu buku saja, mungkin dua. Aku juga sedang tertarik pada cerita pewayangan, mungkin karena cara menuturkannya yang menarik dan bisa dibilang indah (dalam bahasa Indonesia tentu saja). Lalu aku memang menemukan buku itu, cerita pewayangan, dan karangan Seno Gumira Ajidarma, berjudul “Wisanggeni”. Aku menimbang beberapa saat, membuka-buka halamannya, membaca beberapa patah kata. Dan aku putuskan untuk meminjamnya. Suatu bacaan yang baik, tak terlalu tebal pula.

Aku melanjutkan mencari “Bumi Manusia”. Pasti ada di sekitar-sekitar situ. Kalau tak juga kutemukan, baru aku akan menuju ke komputer untuk mengetahui kode bukunya. Dan kutemukanlah, beserta kedua buku lain bagian tetralogi, entah ke mana yang satu, mungkin sedang dipinjam. Aku menimbang apakah kupinjam dua seri sekaligus, tapi kuputuskan tidak. Walaupun jumlah peminjaman buku maksimal lima buah dengan lama waktu peminjaman dua minggu dan bisa diperpanjang dua minggu lagi, aku lebih baik meminjam satu dulu. Lebih santai membacanya dan tidak membuat tasku terlalu berat karena bukunya memang tebal. Apalagi sudah sering pula aku lupa kalau sedang meminjam buku perpustakaan sehingga akhirnya harus kena denda—per buku Rp 500,00 setiap telat satu hari.

Begitulah, akhirnya aku meminjam “Bumi Manusia” dan masih sedang kubaca. “Wisanggeni” telah lebih dulu kubaca dan langsung kuselesaikan hari itu juga dalam waktu beberapa jam. Sebuah bacaan ringan yang menarik. Ternyata “Bumi Manusia” memang bagus, tak membosankan seperti yang aku kira sebelumnya. Aku merasa sedikit ketinggalan zaman karena baru membaca buku itu saat ini, tapi sedikit saja—teringat bahwa buku itu dikenalkan padaku lama berselang. Selebihnya aku sangat menikmati membacanya.

Apakah karena pikiranku diisi kembali oleh bahan bacaan, menulisku pun bisa kembali lancar? Sebelumnya aku merasa buntu, tak tahu bagaimana menulis walaupun banyak yang ingin kutulis. Tadi aku juga menyelesaikan satu tulisan cukup panjang—lebih sebagai cerita daripada pengantar seperti yang diinginkan—untuk disampaikan pada forum GAPPALA mengenai salah satu kegiatan yang sedang dalam proses. Yah, paling tidak aku merasa senang bisa menyelesaikan satu tugas dengan sepenuh hatiku. Untukku sendiri itu cukup memuaskan. Dan menulis kisah ini pun juga menyenangkan.

Di suatu pagi

Langit pagi ini indah… Biru cerah… Hanya ada sedikit awan. Angin pagi sejuk walau matahari panas menyengat….

Hari-hari ini matahari memang selalu memancarkan sinarnya yang panas tiada tara itu. Bahkan di pagi hari.

Malam pun kini selalu membuat berkeringat. Udara di luar memang cukup sejuk, tapi ketika berada di dalam ruangan, panasnya minta ampun. Maka kipas angin menjadi teman setia.

Beberapa hari yang lalu langit cukup berawan. Sinar matahari yang lemah berusaha menembus awan. Udara sejuk agak lembab. Aku bisa melihat Merapi seperti siluet di dalam kabut, Merbabu tampak mengintip dari balik bahunya. Pemandangan yang membahagiakan di pagi itu.

Kamis malam (5 Feb) aku berangkat ke Gunung Kidul untuk menghadiri pertemuan rutin kelompok tani di tempat PKL (Praktek Kerja Lapangan). Rencana sebenarnya berangkat sore, tetapi karena satu dan lain hal keberangkatan jadi mundur. Dan saat itu hari sudah gelap. Aku dan tiga temanku (dua teman kelompok dan satu alumni yang dulu pernah PKL di tempat yang sama) berangkat dengan sepeda motor. Aku dibonceng oleh teman kelompokku.

Perjalanan yang cukup panjang, hampir satu jam untuk menuju lokasi. Dan juga melalui jalan naik yang berliku-liku. Biasanya, jika melakukan perjalanan di siang hari kami akan sering bertemu dengan truk dan bus yang mengepulkan asap hitam dari knalpotnya. Tapi malam itu tidak banyak truk dan bus, hanya satu atau dua, dan jalanan juga lebih sepi.

Ketika berada di daerah yang lebih tinggi, dari kanan jalan tampak pemandangan kota di malam hari dengan lampu yang berkelip-kelip. Aku jadi teringat pemandangan malam hari kota Semarang bawah dilihat dari Semarang atas. Hanya saja, pemandangan malam hari Yogyakarta tampak lebih luas.

Menikmati itu aku jadi teringat rumah di Semarang. Pemandangan seperti itu akan tampak lebih jelas di kanan jalan ketika menuruni Semarang atas. Biasanya setelah berkunjung dari rumah eyang di Ungaran atau ketika aku pulang ke Semarang dari Yogyakarta. Akhir dari perjalanan adalah kamarku yang nyaman, di mana aku bisa membaringkan diri di kasurku dan memeluk gulingku. Rasanya nyaman sekali.

Sudah beberapa kali aku melalui daerah Gunung Kidul di malam hari. Tapi ketika pemandangan malam itu berada di kanan jalan, aku jadi rindu rumah. Namun, perjalananku saat itu tidak menuju rumahku melainkan menuju rumah warga tempat pertemuan kelompok tani.

Langit Biru

Memandang langit dan awan-awan yang putih seperti kapas adalah hobiku—dulunya. Aku masih suka pada awan berlatarkan langit biru, tetapi sekarang sudah sangat jarang menikmatinya.

 

Biasanya, setiap kali berangkat sekolah, begitu keluar dari rumah, aku selalu memandang langit. Dan aku akan terus memandanginya sambil berjalan selama masih di sepanjang jalan depan rumah. Karena jalan di depan rumahku kalau pagi masih sepi, jadi aku bisa bebas memandang langit sambil tetap berjalan. Dan juga kuhirup dalam-dalam udara pagi yang segar.

 

Aku merasa hariku paling indah setiap memandang langit itu. Langit pagi yang biru lembut dengan awan putih seperti kapas. Kadang awan cirrus yang tampak semburat-semburat halus, awan stratus yang bertumpuk-tumpuk seperti anak tangga, atau awan cumulus yang seperti gumpalan kapas. Atau gabungan dari semuanya. Tapi lebih sering awan cirrus dan stratus.

 

Sebenarnya biru bukan warna favoritku, tapi aku paling suka ketika memandang langit biru yang terbentang di atas sana dengan awan-awan putih seperti kapas yang seakan bisa kujangkau. Aku merasa bergerak bersama mereka. Menyenangkan.

 

Di sekolah saat istirahat aku juga akan menyempatkan memandang langit. Langit yang biru sebagai latar belakang pepohonan yang hijau menjadi tampak sangat mengagumkan. Dan sekali lagi aku akan merasa melayang di langit.

 

Dalam satu hari warna biru langit selalu berubah. Kadang birunya bisa menjadi terlalu biru, atau menjadi biru lembut, atau biru pucat. Aku suka warna biru lembut langit yang cerah dengan hiasan awan-awan putih.

 

Sejak berada di kota yang kutinggali sekarang aku jadi kurang leluasa menatap langit. Karena selama hampir tiga tahun aku tinggal di kawasan dengan rumah-rumah berdempet berhalaman sempit dan juga dekat dengan kawasan pertokoan. Juga karena aku tidak lagi berangkat pagi-pagi untuk mendapat momen langit yang menyejukkan di pagi hari.

 

Tapi aku masih akan tetap tersenyum dan merasa bahagia ketika kudapati langit pagi ini, atau siang ini, atau sore ini masih berwarna biru indah dengan awan-awannya yang putih seperti kapas. Aku ingin menyempatkan diri untuk bisa memandang langit itu.

Pada suatu hari kamis di bulan Oktober tahun 2008, tepatnya tanggal 24,  aku mendapat tugas mencari tentang Obat Herbal Emenagogik sebagai take home test mata kuliah BioFarmasi. Tugas ini harus dikumpulkan hari Senin tanggal 27 Oktober dalam bentuk satu lembar printout berisi garis besar dan file presentasi power point—dalam satu CD berisi seluruh tugas satu kelas.

Hari Selasa aku baru mulai mencari bahan untuk tugas ini. Hari itu hari yang nyaman untuk berada di perpustakaan dan aku sedang ingin mencari buku yang menarik untuk dibaca. Sambil menjelajah di antara jajaran rak-rak buku, aku mencari beberapa buku tentang kesehatan. Sekalian saja aku mencari tugasku. Tapi dari semua buku kesehatan, farmakologi, biologi, bahkan kedokteran, tidak kutemukan kata “emenagogik” dalam indeksnya. Aku bahkan sudah beralih dari buku-buku di rak umum (yang bisa dipinjam bebas) menuju buku-buku di rak referensi (yang hanya boleh dibaca di dalam ruang perpustakaan). Tidak biasanya aku gagal mencari sebuah istilah saja dari buku-buku di perpustakaan kampusku.

Ada apa gerangan dengan “emenagogik” ini? Tidak mungkin dosenku salah menuliskan kata, kalaupun salah pasti ada kata yang nyerempet, agak mirip. Yah, karena sepertinya gagal mendapat referensi berupa sebuah buku, aku memutuskan untuk mencarinya di internet. Sebenarnya sedang ingin mendapat referensi dari buku, jadi tidak perlu berlama-lama memelototi layar komputer untuk berkelana di dunia maya. Tapi apa boleh buat. Aku tidak mungkin membuka tiap halaman buku satu per satu tanpa tahu apakah kata yang kucari terdapat dalam buku itu dan tanpa petunjuk sedikit pun apa maksud dari istilah itu.

Setelah membaca data-data yang kuperoleh dari internet akhirnya kuketahui juga kenapa kata “emenagogik” sulit ditemukan dalam indeks di buku. Obat herbal emenagogik (emmenagogue herbs) ini meliputi tanaman yang mempunyai substansi untuk mendorong terjadinya menstruasi, beberapa bahkan dapat mengakhiri kehamilan (abortifacient). Herbal ini cocok digunakan bagi yang mengalami keterlambatan menstruasi. Aksinya dapat bersifat ringan atau kuat tergantung pada tanaman tersebut, dan memiliki cara kerja yang berbeda-beda pula.

Kebanyakan penulis tidak mencantumkan herbal emenagogik atau abortifacient dalam indeks di buku mereka karena sering diasosiasikan dengan aborsi yang bersifat tabu. Tetapi tidak terlalu sulit untuk mendapatkan materi ini di internet. Tentu saja dengan banyak peringatan agar tidak digunakan pada masa awal kehamilan.

Seperti telah disebutkan, ada yang aksinya bersifat ringan atau kuat. Emenagogik ringan aman digunakan pada masa awal kehamilan, asal dikonsumsi dengan benar dan tidak berlebihan. Emenagogik kuat yang juga diklasifikasikan sebagai abortifacient mempunyai kemampuan mengganggu kehamilan. Walaupun hampir semua herbal abortifacient juga digolongkan ke dalam emenagogik, tidak semua herbal emenagogik dapat mengakibatkan keguguran. Contoh herbal emenagogik yang sebelumnya tidak kuketahui adalah seledri atau peterseli (Pteroselinum crispum) dan wortel (Daucus carota). Kunyit (Curcuma domestica)  juga termasuk sebagai obat herbal emenagogik.

Begitulah, aku memperoleh informasi yang benar-benar baru dari take home test ini. Masih banyak hal asing yang belum kuketahui dan entah pada kesempatan apa lagi aku bisa mengetahui hal baru lainnya.

Berikut ini adalah link dari internet yang kudapat dan kugunakan sebagai referensi untuk mengerjakan tugasku:

http://www.pfaf.org/database/search_use.php?K%5B%5D=Emmenagogue

http://www.planetherbs.com/specific-herbs/the-emmenagogues.html

http://www.sisterzeus.com/delayedmen.htm

http://www.sisterzeus.com/Emmeno.htm

Semuanya dari sumber luar (berbahasa Inggris). Sebenarnya lebih bagus kalau bisa mendapatkan sumber dari dalam negeri karena ada beberapa istilah tanaman yang aku tidak tahu namanya dalam bahasa Indonesia maupun nama latinnya. Selain itu, kemungkinan tidak semua tanaman bisa ditemukan di Indonesia. Entah memang tidak ada di halaman Indonesia—aku sudah mencoba melalui Google—atau karena aku kurang jeli. Namun, bagiku sudah cukup dengan mendapat gambaran umum untuk mengerjakan tugas ini.

Satu sumber lagi yang sempat terlupakan adalah buku yang kudapat secara online belum lama sebelum aku mendapat tugas ini:

Ross, Ivan. 2005. Medicinal Plants of the World, Volume 3. New Jersey: Humana Press.

Dapat dicari pada link ini.

Buku ini sangat lengkap menjelaskan fungsi tiap tanaman dan namanya dari banyak negara. Komponen kimia yang terkandung dalam masing-masing tanaman juga yang terlengkap dari yang pernah kudapat.

Kesan terakhir, aku seperti mencari sesuatu yang ada, tetapi dianggap tidak ada ketika mencari “emenagogik” di antara jajaran buku-buku di perpustakaan. Cukup keren.

Malaikatku

Ibuku pernah bilang… “Tiap anak pasti punya malaikat yang diutus oleh Tuhan… .”

Hari ini hari yang melelahkan. Sejak pagi hingga matahari hampir terbenam terus beraktivitas. Sudah seminggu seperti ini, hari ini sepertinya sudah tidak kuat lagi. Setibaku di rumah hari sudah gelap, seluruh badanku terasa pegal. Entah aku masih bisa bertahan seperti ini terus atau tidak. Aku jadi rindu celotehan adikku. Walaupun kadang mengganggu, tapi suasana tidak akan menjadi sesepi ini.

…mulai dari kita lahir hingga tiba di surga lagi… .”

Aku malas mandi, jadi setelah berganti pakaian dan mengeluarkan barang yang tidak perlu dari tasku, aku langsung berbaring di tempat tidur. Kasur yang empuk membuat punggungku jadi rileks, mengurangi rasa pegal yang sedari tadi kurasakan.

Semoga mimpiku malam ini indah, aku berdoa pada Tuhan.

…dia tidak pernah tidur, karena tidurmu adalah anugerah terindah untuknya bisa menjaga malam dan pagimu… .”

Sepertinya aku tertidur cukup nyenyak, tapi entah apa yang membuatku terbangun. Mimpikah?

Aku membuka mataku, mempunyai perasaan terlindungi dan aman. Dalam cahaya putih yang lembut di kamarku yang gelap, aku melihat sepasang sayap indah. Sosok yang mempunyai sayap itu bersila di atasku, persis di bawah langit-langit, dan sedang tersenyum lembut memandangku.

…jika kita percaya sepenuh hati, dia bahkan menjaga di dalam mimpimu… .”

Kurasa malam itu aku tersenyum dalam tidurku.

Aku terbuai dalam tidur dengan mimpi yang begitu kaya dan memesona. Malam seperti tak pernah kulalui dalam tidurku yang nyenyak dan damai. Saat fajar datang dan matahari muncul malu-malu di ufuk timur, aku terbangun dengan napas yang dalam dan lembut sisa tidurku semalam. Tubuhku terasa hangat dan seperti habis bermain di antara awan-awan yang empuk dan nyaman. Mataku terbuka lebar seakan memperoleh energi baru, seperti seorang anak yang baru saja tidur siang dan siap bermain lagi. Kulalui pagiku dengan hati yang ringan tanpa beban, aku yakin hari yang menyenangkan sedang menantiku.

Tapi kemudian aku teringat tentang sebuah tidur tanpa mimpi. Kegelapan tanpa hasrat maupun petualangan. Aku tak bisa mengira-ngira mengapakah sebuah tidur bisa tanpa mimpi. Walaupun kadang mimpi bisa sangat menyakitkan, tapi paling tidak mimpi itu ada.

Bagaimanakah bisa tidur tanpa mimpi? Aku dulu pernah mengira tidurku tanpa mimpi, tapi kemudian aku tahu bahwa aku telah melupakan mimpiku, dan memang aku telah bermimpi, mimpi yang tak lagi kuingat. Bahkan aku hampir melupakan kalau aku telah bermimpi.

Aku ingin menarikmu dari kegelapan itu, membawamu bersamaku dalam keindahan dan kepolosan mimpi. Kelegaan dan kebahagiaan yang bisa kaurasakan setelah bangun dari tidur berasal dari ingatan tentang mimpimu. Mimpi memperbaharui dirimu dan menata ulang perasaanmu.

Takkan kubiarkan mimpi buruk menjeratmu, takkan kubiarkan kesedihan maupun ketakutan menguasaimu dalam mimpi. Akan kupastikan dirimu aman dalam mimpi, asal jangan tanpa mimpi. Lalu kita akan terjaga dengan ingatan akan mimpi kita yang begitu kaya dan memesona, maka lengkaplah kebahagiaanku karena kau ikut bermimpi bersamaku.

Older Posts »